Rabu, 02 November 2016

media dalam pembelajaran

Media Komputer dalam sistem pembelajaran 


1.       Pengertian media pembelajaran
Media pada dasarnya adalah alat untuk memberikan kemudahan dalam menjalankan profesi.  contohnya seperti seseorang yang bekerja sebagai kuli bagunan ia membutuhkan alat-alat seperti tang,gergaji,dan yang lainnya alat-alat tersebut merupakan media bagi seseorang yang berprofesi sebagai kuli bangunan karna alat-alat tersebut dapat membantu pekerjaannya.
Istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari "medium" yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada dasamya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Media dapat didefinisikan sebagai alat bantu yang digunakan untuk mempermudah pembelajaran dan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Hubungan media pembelajaran dengan media pendidikan. Media pmerupakan media yang digunakan dalam proses dan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada hakekatnya media pendidikan juga merupakan media komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila kita bandingkan dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum, sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri. Sedangkan media pembelajaran sifatnya lebih mengkhusus, maksudnya media pendidikan yang secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara khusus. Tidak semua media pendidiikan adalah media pembelajaran, tetapi setiap media pembelajaran pasti termasuk media pendidikan.
Media yang digunakan oleh guru dapat di ibaratkan sebagai bagian software dan hardware. Software berfungsi sebagai pesan yang akan disampaikan kepada murid dan hardware adalah alat / media dalam membantu pembelajaran.
2.    Standar Profesi Guru
Tuntunan profesi seorang guru terdapat dalam lampiran permendiknas no 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
a.       Kualifikasi akademik
Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal mencangkup kualifikasi akademik guru pendidikan anak usia dini/taman kanak-kanak/Raudatul atfal (PAUD/TK/RA), guru sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah(SD/MA) guru sekolah menengah pertama/madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), guru sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA), guru sekolah dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/sekolah menengah atas luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK).
b.      Kompetensi Guru
Kompetensi Guru di bagi menjadi 4 aspek yaitu :
1)       Kompetensi Paedagogik
2)      Kompetensi Kepribadian
3)       Kompetensi Profesional
4)       dan Kompetensi Sosial. 
3.      Kebutuhan Siswa
Salah satu yang dibutuhkan siswa dalam pembelajaran adalah sumber belajar. Sumber belajar adalah sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran dalam memahami dan memperoleh suatu pembelajaran dan sikap. Sumber belajar yang digunakan dalam prose pembelajaran :
1)      Manusia
2)      Pesan
3)      Teknik
4)      Alat
5)      Bahan
6)      Lingkungan
4.      Kedudukan media dalam komunikasi pendidikan
Komunikasi adalah suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.
Peranan media dalam komunikasi pendidikan yaitu ;
a.       Menghindari terjadinya ferbalisme
b.      Meningkatkan perhatian
c.       Menarik perhatian siswa
d.      Mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran.




Unsur-unsur yang mempengaruhi keberhasilah komunikasi:
a.       Komunikator
b.      Penerima pesan
c.       Konteksnya (lingkungan)
d.      Sistem penyampaiannya


5.      Kedudukan media dalam sistem pembelajaran
Pada umumnya kedudukan Media Pembelajaran berfungsi sebagai alat perantara atau alat pengatur pesan dalam kegiatan pembelajaran yaitu memberikan stimulus kepada siswa agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru, dari konsep-konsep yang masih abstrak menjadi gambaran yang lebih konkrit. Sikap dan perilaku seseorang juga akan mengalami perubahan setelah mereka mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.
Kedudukan media dalam sistem belajar mengjar adalah sebagai berikut :
a.       Memperjelas penyajian pesan
b.      Media pembelajaran dapat mengarahkan perhatian anak
c.       Media dpat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
d.      Media memberikan kesamaan pengalaman

6.      Tahap Perubahan pembelajaran konvensional hingga bermedia
Model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang biasa diterapkan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran atau dapat disebutkan juga pola pembelajaran yang masih sangat tradisional . Penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), daripada modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi penyampaian informasi secara langsung kepada siswa dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat.
Tahapan perubahan pola pembalajaran konvensional hinnga bermedia
  1. Pola Pembelajaran Konvensional I
Pola pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu/bahan pembelajaran dalam bentuk alat peraga. Pola pembelajaran ini tergantung pada kemampuan guru dalam mengingat bahan pembelajaran dan menyampaikan bahan tersebut secara lisan kepada siswa.


  1. Pola Pembelajaran Konvensional II
Pola (guru + alat bantu) dengan siswa. Pada pola pembelajaran ini guru sudah dibantu oleh berbagai bahan pembelajaran yang disebut alat peraga pembelajaran dalam menjelaskan dan meragakan suatu pesan yang bersifat abstrak.



  1. Pola Pembelajaran Guru Bermedia
Pola (guru) + (media) dengan siswa. Pola pembelajaran ini sudah mempertimbangkan keterbatasan guru yang tidak mungkin menjadi satu– satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, guru dapat memanfaatkan berbagai media pembelajaran sebagai sumber belajar yang dapat menggantikan guru dalam pembelajaran, jadi siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai media sebagai sumber belajar, misalnya dari majalah, modul, siaran radio pembelajaran, televisi pembelajaran, media komputer dan internet. Pola ini merupakan pola pembelajaran bergantian antara guru dan media dalam berinteraksi dengan siswa.

  1. Pola Pembelajaran Bermedia
Pola pembelajaran media dengan siswa atau pola pembelajaran jarak jauh menggunakan media atau bahan pembelajaran yang disiapkan, dalam pola ini, siswa belajar dengan media, tanpa campur tangan guru, artinya, guru hanya sebagai fasilitator yang menyiapkan bahan atau materi pembelajaran saja yang kemudian bahan tersebut diaplikasikan pada media sebagai sumber belajar siswa yang utama
Materi- media -siswa 



7.      Sejarah perkembangan media
Pada awalnya guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pembelajaran. Tetapi dengan berkembangnya zaman banyak para ilmuan mencari sebuah alat bantu atau biasa disebut media, untuk mempermudah pembelajaran. Perkembangan media dalam melalui beberapa tahap yaitu
a.       Buku bergambar
Pada abad ke 17 tepatnya tahun 1657, diterbitkanlah buku bergambar yang berjudul Orbis Sensualium. Buku ini dibuat oleh tokoh bernama Johan Amos Comenius. Penulisan buku ini didasari oleh konsep yaitu, tidak ada segala sesuatu dalam pikiran manusia tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan.
b.      Audio
Selanjutnya pada abad ke 20 tepatnya tahun 1930 diciptakanlah media audio contohnya, radio dan recorder (perekam suara). Radio digunakan untuk menyebarkan informasi secara luas melalui suara. Recorder digunakan untuk merekam informasi yang berupa suara dan memutar kembali informasi tersebut saat diperlukan. Keuntungan media audio ini yaitu, dapat menyampaikan informasi secara lengkap tanpa adanya modifikasi dari pihak-pihak lain.
c.       Audio visual
kemudian berkembanglah media audio visual, yang mengkombinasikan informasi gambar dengan suara pada tahun 1943-1945. Media audio visual ini digunakan oleh angkatan senjata Amerika. Diciptakanlah sekitar 400 film pelatihan untuk melatih serta menyiapkan pasukan perang Amerika. Media ini sangatlah efektif dalam penggunaanya saat itu.
d.      Gambar bergerak
Pada tahun 1950 munculah media gambar bergerak yang biasa disebut televisi. Televisi digunakan untuk menyampaikan informasi ke khlayak umum.adanya chanel-chenel pendidikan dalam TV. Yang memungkinkan seseorang belajar sambil menonton.
e.       Multimedia 
Pada Tahun 1950-1955 muncullah komputer sebagai sarana yang multifunngsi. Dengan adanya software-software di dalam komputer. Dengan adanya software-software dalam komputer, Dapat memudahkan seseorang menyampaikan informasi secara mudah dan cepat. Pada abad ke 21 tepatnya tahun 2001 sampai sekarang munculah media pembelanjaran berbasis ICT. Semua gadget seperti tablet, handpone, notebook, dan laptop dapat terkoneksi ke internet. Melalui internet seseorang dapat mengakses informasi secara global dan belajar online denga e-learning. Seseorang juga dapat membaca buku elektronik seperti BSE. Semua orang dapat belajar sendiri tanpa adanya guru, dimana saja dan kapannya.

Rabu, 15 Juni 2016

tasawuf dzun nun al-misri

 AJARAN-AJARAN TASAWUF DZUN NUN AL-MISHRI
A. Dzun Nun Al-Mishri tentang ma’rifah
Al-Mishri merupakan pelopor paham ma’rifat. Beliau berhasil memperkenalkan corak baru tentang ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Pertama, ia membedakan antara ma'rifat sufiah dan aqliyah. Ma'rifat yang pertama menggunakan pendekatan gaib yang biasa digunakan pada sufi, sedangkan ma'rifat yang kedua menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan para teolog.
Kedua, menurut Al-Mishri, ma'rifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiyah ( penyaksian hati ).
Ketiga, teori-teorinya ini kemudian dianggap sebagai jembatan menuju teori-teori Wahdat Asy-Syuhud dan ijtihad.
Pandangan-pandangan Al-Mishri tentang ma'rifat :
1.      Sesungguhnya ma'rifat yang hakiki bukanlah ilmu tentang keesaan Tuhan sebagiamana yang dipercaya orang-orang mukmin, bukan pula ilmu-ilmu Burhan dan Nazhar miliki para hakim, mutakalimin dan ahli balaqhah, tetapi ma'rifat terhadap keesaan Tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah.
2.      Ma'rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari hatimu dengan cahaya ma'rifat yang murni seperti matahari tidak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya.5)
Ma'rifat beliau dibagi menjadi 3 macam :
1.      Ma'rifat mu’minin biasanya mengenai Tuhan karena memang demikian ajaran yang diterimanya.
2.      Ma'rifat Abu Mutakalimin dan Hukam mencari Tuhan dengan akalnya, maka dengan akallah mereka dapat menyatakan adanya Tuhan, tetapi belum tentu dapat dirasainya atau lezatnya.
3.      Ma'rifat Muqaizbin mencari Tuhan dengan berpedoman kepada cinta yang dikaruniakan Tuhan kepada-Nya.6)

B.     Dzun Nun Al-Mishri membagi pengetahuan tentang Tuhan menjadi tiga, yaitu :
1.      Pengetahuan Awam, Yaitu pengetahuan bahwa Tuhan itu satu dengan perantaraan ucapan.
2.      Pengetahuan UlamaYaitu pengetahuan bawha Tuhan itu Esa, menurut logika akal.
3.      Pengetahuan Shufi Yaitu pengetahuan bahwa Tuhan itu Esa dengan perantaraan hati sanubari.
Menurut Harun Nasution pengetahuan jenis pertama dan kedua belum dimasukkkan dalam kategori pengetauan haqiqi tentang Tuhan. Keduanya belum disebut dengan ma'rifat, tetapi disebut dengan ilmu. Sedangkan pengetahuan ketiga baru disebut dengan ma'rifat.
Dalam penjabaran rohani, Al-Mishri mempunyai sistematika sendiri tentang jalan menuju tingkat ma'rifat. Dari teks-teks ajarannya, Abdu          Al-Hamid Mahmud mencoba menggambarkan sistematika Al-Mishri sebagai berikut :
a.       Ketika ditanya tentang siapa sebenarnya orang bodoh itu ?. Al-Mishri menjawab : “orang yang tidak mengenal jalan menuju Allah dan tidak ada usaha untuk mengenal-Nya”.
b.      Al-Mishri mengatakan bahwa jalan itu ada dua macam, yaitu Thariq             Al-Inabah, adalah jalan yang harus dimulai dengan cara yang ikhlas dan benar, dan Thariq Al-Intiba’ adalah jalan yang tidak mensyaratkan              apa-apa pada seorang karena merupakan urusan Allah semata.
c.       Disisi lain Al-Mishri menyatakan bahwa manusia itu ada dua macam yaitu Darij dan Wasil. Darij adalah orang yang berjalan menuju jalan Iman, sedangkan Wasil adalah orang yang berjalan ( melayang ) di atas kekuatan ma'rifat.7)
Dzun Nun Al-Mishri juga menjelaskan untuk mencapai kepada Allah dengan 4 syarat, yaitu :
a.       Mencintai Allah dan Rasul-Nya.
b.      Membenci yang bersifat materi.
c.       Mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
d.      Takut akan berubah.
Sedangkan tanda orang yang arif ada 3 yaitu :
a.       Cahaya ma'rifatnya tidak memadamkan cahaya kerendahan hatinya.
b.      Tidak mengukuhi secara batiniyah ilmu yang bertentangan dengan  hukum lahirnya.
c.       Nikmat Allah yang banyak, tidak menggiringnya untuk melanggar batas-batas Allah.

C.     Pandangan Dzun Nun Al-Mishri tenang maqamat dan ahwal
Pandangan Al-Mishri tentang maqamat, dikemukakan pada beberapa hal saja, yaitu : At-Taubah, Ash-Shabr, At-Tawakal dan Ar-Ridha. Menurut Al-Mishri, ada dua macam taubat yaitu taubat awam dan taubat khawas. Taubat orang awam yaitu taubat dari segala dosa, dan taubat orang khawas ialah taubat dari segala kelalaian.
Lebih lanjut Al-Mishri membagi taubat menjadi tiga tingkatan yaitu :
a.       Orang yang bertabat dari dosa dan keburukannya.
b.      Orang yang bertaubat dari kelalaian dan kealfaan mengingat Tuhan.
c.       Orang yang bertaubat karena memandang kebaikan ketaatannya.
Keterangan Al-Mishri tenang maqam Ash-Shabr ialah sabar dalam menghadapi cobaan.
Berkenaan dengan maqam At-Tawakal, Al-Mishri mendefinisikannya sebagai berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan.
Ketika ditanya tentang Ar-Ridha, Al-Mishri menjawab bahwa,             Ar-Ridha adalah kegembiraan hati menyambut ketentuan Tuhan baginya. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qannad, yang mengatakan bahwa rida itu adalah ketenangan hati dengan berlakunya ketentuan Tuhan.
Berkenaan dengan ahwal, Al-Mishri menjadikan mahaldaal ( cinta kepada Tuhan ) sebagai urutan pertama dari keempat ruang lingkup pembahasan tentang ma'rifat. Menurutnya, tanda-tanda orang yang mencintai Allah adalah mengikuti kekasih-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW dalam hal akhlak, perbuatan, segala perintah dan sunnah Rasul, tidak mengabaikan syari’at. Ia menyatakan bahwa ada tiga simbol mahabbah yaitu rida terhadap hal-hal yang tidak disenangi, berprasangka baik terhadap sesuatu yang belum diketahui, dan berlaku baik dalam menentukan pilihan dan hal-hal yang diperingatkan.