AJARAN-AJARAN TASAWUF DZUN NUN AL-MISHRI
A. Dzun Nun Al-Mishri tentang ma’rifah
Al-Mishri merupakan pelopor
paham ma’rifat. Beliau berhasil memperkenalkan corak baru tentang ma’rifat
dalam bidang sufisme Islam. Pertama, ia membedakan antara ma'rifat
sufiah dan aqliyah. Ma'rifat yang pertama menggunakan pendekatan gaib yang
biasa digunakan pada sufi, sedangkan ma'rifat yang kedua menggunakan pendekatan
akal yang biasa digunakan para teolog.
Kedua, menurut Al-Mishri, ma'rifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiyah (
penyaksian hati ).
Ketiga,
teori-teorinya ini kemudian dianggap sebagai jembatan menuju teori-teori Wahdat
Asy-Syuhud dan ijtihad.
Pandangan-pandangan Al-Mishri tentang ma'rifat :
1. Sesungguhnya ma'rifat yang hakiki bukanlah ilmu
tentang keesaan Tuhan sebagiamana yang dipercaya orang-orang mukmin, bukan pula
ilmu-ilmu Burhan dan Nazhar miliki para hakim, mutakalimin dan ahli balaqhah,
tetapi ma'rifat terhadap keesaan Tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah.
2. Ma'rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari
hatimu dengan cahaya ma'rifat yang murni seperti matahari tidak dapat dilihat
kecuali dengan cahayanya.5)
Ma'rifat
beliau dibagi menjadi 3 macam :
1. Ma'rifat mu’minin biasanya mengenai Tuhan karena memang demikian ajaran
yang diterimanya.
2. Ma'rifat Abu Mutakalimin dan Hukam mencari Tuhan
dengan akalnya, maka dengan akallah mereka dapat menyatakan adanya Tuhan,
tetapi belum tentu dapat dirasainya atau lezatnya.
3. Ma'rifat Muqaizbin mencari Tuhan dengan berpedoman kepada cinta yang
dikaruniakan Tuhan kepada-Nya.6)
B. Dzun Nun Al-Mishri membagi pengetahuan tentang Tuhan menjadi tiga, yaitu :
1. Pengetahuan Awam, Yaitu pengetahuan bahwa Tuhan
itu satu dengan perantaraan ucapan.
2. Pengetahuan UlamaYaitu pengetahuan bawha Tuhan itu Esa, menurut logika
akal.
3. Pengetahuan Shufi Yaitu pengetahuan bahwa Tuhan
itu Esa dengan perantaraan hati sanubari.
Menurut Harun Nasution pengetahuan jenis pertama dan kedua belum
dimasukkkan dalam kategori pengetauan haqiqi tentang Tuhan. Keduanya belum
disebut dengan ma'rifat, tetapi disebut dengan ilmu. Sedangkan pengetahuan
ketiga baru disebut dengan ma'rifat.
Dalam penjabaran rohani, Al-Mishri mempunyai sistematika sendiri tentang
jalan menuju tingkat ma'rifat. Dari teks-teks ajarannya,
Abdu Al-Hamid Mahmud
mencoba menggambarkan sistematika Al-Mishri sebagai berikut :
a. Ketika ditanya tentang siapa sebenarnya orang bodoh itu ?. Al-Mishri
menjawab : “orang yang tidak mengenal jalan menuju Allah dan tidak ada usaha
untuk mengenal-Nya”.
b. Al-Mishri mengatakan bahwa jalan itu ada dua macam,
yaitu Thariq
Al-Inabah, adalah jalan yang
harus dimulai dengan cara yang ikhlas dan benar, dan Thariq Al-Intiba’ adalah
jalan yang tidak
mensyaratkan
apa-apa pada seorang karena merupakan urusan Allah semata.
c. Disisi lain Al-Mishri menyatakan bahwa manusia itu ada dua macam yaitu
Darij dan Wasil. Darij adalah orang yang berjalan menuju jalan Iman, sedangkan
Wasil adalah orang yang berjalan ( melayang ) di atas kekuatan ma'rifat.7)
Dzun Nun Al-Mishri juga menjelaskan untuk mencapai kepada Allah dengan 4
syarat, yaitu :
a. Mencintai Allah dan Rasul-Nya.
b. Membenci yang bersifat materi.
c. Mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
d. Takut akan berubah.
Sedangkan tanda orang yang arif ada 3 yaitu :
a. Cahaya ma'rifatnya tidak memadamkan cahaya kerendahan hatinya.
b. Tidak mengukuhi secara batiniyah ilmu yang bertentangan dengan hukum
lahirnya.
c. Nikmat Allah yang banyak, tidak menggiringnya untuk melanggar batas-batas
Allah.
C. Pandangan Dzun Nun Al-Mishri tenang maqamat dan ahwal
Pandangan Al-Mishri tentang maqamat, dikemukakan pada beberapa hal saja,
yaitu : At-Taubah, Ash-Shabr, At-Tawakal dan Ar-Ridha. Menurut Al-Mishri, ada
dua macam taubat yaitu taubat awam dan taubat khawas. Taubat orang awam yaitu
taubat dari segala dosa, dan taubat orang khawas ialah taubat dari segala
kelalaian.
Lebih lanjut Al-Mishri membagi taubat menjadi tiga tingkatan yaitu :
a. Orang
yang bertabat dari dosa dan keburukannya.
b. Orang
yang bertaubat dari kelalaian dan kealfaan mengingat Tuhan.
c. Orang
yang bertaubat karena memandang kebaikan ketaatannya.
Keterangan Al-Mishri tenang maqam Ash-Shabr ialah sabar dalam menghadapi
cobaan.
Berkenaan dengan maqam At-Tawakal, Al-Mishri mendefinisikannya sebagai
berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya
adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak memiliki
kekuatan.
Ketika ditanya tentang Ar-Ridha, Al-Mishri menjawab
bahwa,
Ar-Ridha adalah kegembiraan hati menyambut ketentuan Tuhan baginya. Pendapat
ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qannad, yang mengatakan bahwa
rida itu adalah ketenangan hati dengan berlakunya ketentuan Tuhan.
Berkenaan dengan ahwal, Al-Mishri menjadikan mahaldaal ( cinta kepada Tuhan
) sebagai urutan pertama dari keempat ruang lingkup pembahasan tentang
ma'rifat. Menurutnya, tanda-tanda orang yang mencintai Allah adalah mengikuti
kekasih-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW dalam hal akhlak, perbuatan, segala
perintah dan sunnah Rasul, tidak mengabaikan syari’at. Ia menyatakan bahwa ada
tiga simbol mahabbah yaitu rida terhadap hal-hal yang tidak disenangi,
berprasangka baik terhadap sesuatu yang belum diketahui, dan berlaku baik dalam
menentukan pilihan dan hal-hal yang diperingatkan.
tithology jewelry | silver - titanium Daith jewelry
BalasHapus› products › products titanium white acrylic paint All Tithology jewelry galaxy watch 3 titanium is designed by Thoroughbred and Tilt Shop. ford transit connect titanium gold, silver, micro touch hair trimmer gold, titanium cerakote nickel, and dime.
viagra online,cheap cialis,https://www.caribbeansearesorts.com/
BalasHapus